SEPULUH kepala daerah dari berbagai provinsi mengunjungi Jawa Tengah. Mereka adalah peserta Orientasi Kepemimpinan dan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah bagi Bupati/Wali Kota dan Wakil Bupati/Wakil Wali Kota tahun 2012.
Senin (9/4) pagi kemarin, di Ruang pertemuan lantai 2 Gedung A Pemprov Jateng, mereka ditemui Gubernur Bibit Waluyo.
Banyak hal yang disampaikan gubernur. Dari soal kiat dan pengalaman memimpin Jateng hingga pandangan-pandangan terkait birokrasi dan korupsi.
Menariknya, meski menghadapi kepala daerah dari berbagai suku dan budaya, Bibit tetap dengan gayanya yang khas: spontan, serta penuh ungkapan Bahasa Jawa di sana-sini. "Pemimpin harus lurus. Jangan sudah lurus kemudian ndengkleh (menyimpang), itu bukan bupati atau wali kota tetapi bromocorah," kata Bibit.
Ketika Bibit mengucapkannya, beberapa kepala daerah bengong. Sebagian nampak bingung kemudian berbisik-bisik dengan rekan di sebelahnya. Tapi ada juga yang tersenyum bahkan tertawa kecil bersama Sekda Jateng Hadi Prabowo dan beberapa pejabat Pemprov yang ikut hadir di ruangan itu.
Maklum, dari sepuluh kepala daerah itu hanya satu yang berasal dari Jawa, yakni Wakil Wali Kota Pasuruan Setiyono. Lainnya ialah Bupati Tapanuli Tengah Sumatera Utara, Raja Bonaran Situmeang; Bupati Siak Riau, Syamsuar; Bupati Banggai Kepulauan Sulawesi Tengah, Lania Laosa; Bupati Dompu Nusa Tenggara Barat, Syamsuddin Yasin; dan Bupati Bombana Sulawesi Tenggara, Tafdil.
Kemudian Wakil Bupati Padang Pariaman Sumatera Barat, Damsuar; Wakil Bupati Luwu Utara Sulawesi Selatan, Indah Putri Indriani; Bupati Lembata Nusa Tenggara Timur, Eliaser Yance J Sunur; dan Bupati Tambrauw Papua Barat Gabriel Asem.
Namun tak selamanya ungkapan Jawa Bibit menghadirkan senyum. Sesekali, seisi ruangan malah terdiam karena sentilan Bibit yang diucapkan dengan nada tinggi dan raut muka super serius.
Kehormatan
"Laksanakan tugas dengan bersih dan lurus, jangan ada rekayasa. Kalau kamu menyimpang, tempat mu bukan di sini, tapi di balik jeruji. Anakmu malu, istrimu malu. Mereka tidak minta itu, anak bojomu ora njaluk duit korupsi. Mereka minta kehormatan, kehormatan, kehormatan, dan kehormatan!"
Gubernur yang telah hampir empat tahun menjabat itu juga mengingatkan para kepala daerah untuk tidak gila jabatan serta loyal kepada pimpinan. Dia sempat menyentil para kepala daerah di Jateng yang sering mangkir ketika diajak rapat dan mereka yang ikut demonstrasi menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) lalu.
"Saya sudah usulkan revisi Undang-Undang 32 tahun 2004, harus ada reward and punishment. Bupati, wali kota yang tidak loyal ya diganti, ojo dijar-jarke wae tekan limang taun," katanya. (Anton Sudibyo, Royce Wijaya-71)

1 komentar:
Semoga dapat membantu dalam prosem pengembangan Kabupaten Tambrauw kearah yang lebih baik . . .
Posting Komentar